PTS di Jabar dan Banten Minim Guru Besar

BANDUNG, (PR).-, Minggu, 2 November 2008
Perguruan tinggi swasta (PTS) di Jawa Barat dan Banten harus terus mendorong doktor yang mereka miliki untuk menjadi guru besar. Sebab, jumlah guru besar yang ada sekarang masih jauh dari ideal, yakni hanya 54 orang. Dari jumlah itu pun, sekitar 50 persennya berstatus pegawai yang diperbantukan (DPK).

“Padahal, keberadaan guru besar di lingkungan PT termasuk swasta, sangat penting untuk meningkatkan kualitas pengajaran, pembinaan, dan pengembangan keilmuan lewat penelitian,” ungkap Koordinator Kopertis Wilayah Jabar dan Banten Prof. Dr. Rochim Suratman di Bandung, Selasa (7/10).

Rochim mengatakan idealnya rasio antara dosen dan guru besar adalah 1:10. “Kalau di Jabar dan Banten saja jumlah dosen mencapai 9.200 orang, artinya guru besar hendaknya mendekati angka 900 orang,” ujarnya.

Ketiadaan guru besar secara proporsional menyebabkan fungsi pembinaan bagi dosen-dosen muda menjadi rendah. Hal itu berdampak pada rendahnya jumlah riset dan pembuatan karya ilmiah yang dilakukan dosen.

“Guru besar dalam sebuah universitas dibutuhkan untuk membimbing dosen muda mengembangkan kapasitas keilmuan. Makanya guru besar memiliki pangkat pembina utama karena telah dianggap berpengalaman dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” tuturnya.

Menurut Rochim, minimnya jumlah guru besar di PTS berbanding lurus dengan sarana prasarana yang belum mendukung bagi doktor melakukan penelitian dan publikasi karya ilmiah. Padahal, syarat terpenting bagi doktor menjadi guru besar adalah dilihat dari kuantitas dan kualitas pengembangan keilmuan.

“Artinya, persoalan ini juga terkait dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai bagi civitas academica perguruan tinggi swasta untuk mengoptimalkan kinerja masing-masing,” ungkapnya.

Ketersediaan guru besar yang memadai di sebuah perguruan tinggi, diharapkan juga akan memaksimalkan peran PT bersangkutan, dengan segenap lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat di dalamnya, untuk berkontribusi bagi lingkungan sekitar.

Komprehensif

Sementara itu, Guru Besar Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, Prof. Eddy Yusuf mengatakan persoalan minimnya guru besar di PTS harus dilihat secara komprehensif. Pasalnya, sebelum bisa mencapai guru besar, seorang dosen harus melewati program doktoral.

“Bagi dosen PTS, tawaran beasiswa doktor dari pemerintah melalui beasiswa pendidikan pascasarjana (BPPS) sedikit. Sedangkan belum semua PTS mau dan sanggup membiayai dosennya melanjutkan studi,” ujarnya.

Selain itu, dosen yang sudah melewati program doktoral terkadang sering lupa memperbarui diri. Mereka kurang rajin membuat riset dan menulis di jurnal ilmiah.

“Butuh komitmen dari PTS dan pemerintah untuk mendorong supaya semakin banyak guru besar dengan usia kurang dari 50 tahun. Caranya, sediakan alokasi beasiswa studi lanjut bagi dosen sebanyak mungkin, baik oleh PTS maupun pemerintah. Kemudian fasilitasi doktor dan dosen pada umumnya untuk bisa mengembangkan keilmuannya,” katanya.

Dalam kaitan ini, ia menegaskan ke depan tidak boleh ada lagi dikotomi PTN dan PTS. “Pemerintah harus memiliki komitmen serupa baik kepada PTN maupun PTS, dalam rangka peningkatan kualitas masing-masing lembaga.” (CA-166) ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: